Friday, February 10, 2017

Praktikum Mikrobiologi Industri : PEMBUATAN NATA DE COCO

BAB 1
PENDAHULUAN
1.1. Latar Belakang
            Bioteknolologi adalah salah satu cabang ilmu biologi yang membahas tentang pemanfaatan agen hayati atau bagian-bagiannya untuk menghasilkan barang dan jasa yang dapat bermanfaat bai kehidupan. Agen hayati yang umumnya digunaka adalah jamur mikro dan bakteri. Beberapa bakteri memiliki peranan bagi kehidupan, baik peranan yang menguntungkan maupun yang merugikan. Bakteri yang menguntungkan umumnya dibudidayakan oleh masyarakat, misalnya bakteri Acetobacter xylinum yang mampu mengubah air kelapa menjadi jalinan serat putih yang disebut nata de coco. Pembuatan nata dari air kelapa yang merupakan limbah makanan haruslah yang mengandung glukosa cukup bagi pertumbuhan bakteri yang kelak akan mengubahnya menjadi serat yang layak dikonsumsi. Pada praktikum kali ini digunakan air kelapa tua sebagai bahan baku dan hasilnya di pasaran dikenal sebagai nata de coco. Nata de coco adalah makanan yang banyak mengandung serat selulosa kadar tinggi yang bermanfaat bagi kelancaran pencernaan kita. Makanan ini berbentuk padat, kokoh, kuat, putih, transparan, dan kenyal dengan rasa mirip kolang-kaling. Produk ini banyak digunakan sebagai pencampur es krim, coktail buah, sirup, dan makanan ringan lainnya. Kandungan kalorinya yang rendah, sangat tepat dikonsumsi sebagai makanan diet. Penambahan vitamin dan mineral akan mempertinggi nilai gizi nata de coco. Nata de coco merupakan jenis makanan hasil fermentasi oleh bakteri Acetobacter xylinum. Acetobacter xylinum dalam pertumbuhan dan aktivitasnya membentuk nata memerlukan suatu media yang tepat memiliki kandungan komponen-komponen yang dibutuhkan sehingga produksi nata yang dihasilkan dapat secara optimal. Komponen media nata yang dibutuhkan sebagai syarat media nata antara lain memiliki sumber karbon dapat berupa gula, sumber nitrogen dapat berupa penambahan urea atau ZA, mineral dan vitamin yang mendukung pertumbuhan bakteri acetobacter xylinum. Pada fermentasi nata kondisi lingkungan juga sangat berpengaruh karena bakteri acetobacter xylinum memiliki kondisi optimum lingkungannya untuk tumbuh baik itu suhu, pH, cahaya, oksigen dan lain-lainnya.

Pada praktikum kali ini bahan utama yang digunakan adalah air kelapa. Air kelapa merupakan salah satu limbah yang bermanfaat dari bagian buah kelapa. Tapi sangat disayangkan kebanyakan dari masyarakat kurang mengenal apa manfaat dari air kelapa ini. Padahal air kelapa sangat banyak manfaatnya slah satunya adalah diolah menjadi nata de coco. Harga bahan baku ini relatif sangat murah dan kadang-kadangpun tidak ada harganya atau diberikn secara Cuma-Cuma. Selain itu di indonesia sangat kaya akan kelapa sehingga apabila limbah air kelapa ini tidak dimanfaatkan akan sangat rugi karena hasil yang di dapat dari produksi air kelapa yang diolah menjadi nata de coco ini lumayan memuaskan kalau dilihat dari segi ekonominya.
Air kelapa mempunyai potensi yang baik untuk di buat minuman fermentasi karena kandungan zat gizinya yang kaya dan relatif lengkap, sehingga sesuai untuk pertumbuhan mikroba. Komposisi gizi air kelapa tergantung pada umur kelapa dan variertasnya. Air kelapa per 100 ml mengandung sejumlah zat gizi, yaitu protein 0,2 g, lemak 0,2 g, gula 3,8 g, vitamin C 1,0 mg, asam amino, dan hormon pertumbuhan. Jenis gula yang terkandung glukosa, fruktosa, sukrosa, dan sorbitol (Astawan, 2004). 
1.2. Tujuan
                     Praktikum ini bertujuan untuk mengetahui cara pembuatan nata de coco











BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

II. 1. Buah Kelapa
              Buah kelapa merupakan bagian paling penting dari tanaman kelapa karena mempunyai nilai ekonomis dan gizi yang tinggi. Air kelapa salah satu bagian buah kelapa yang mengandung sejumlah zat gizi yaitu protein, lemak, gula, sejumlah vitamin, asam amino, dan hormon pertumbuhan. Air kelapa dapat dimanfaatkan sebagai media untuk produksi nata de coco. Nata de coco merupakan hasil fermentasi air kelapa dengan bantuan mikroba Acetobacter xylinum, yang berbentuk padat, berwarna putih, transparan, berasa manis dan bertekstur kenyal. Selain banyak diminati karena rasanya yang enak dan kaya serat, pembuatan nata de coco pun tidak sulit dan biaya yang dibutuhkan tidak banyak sehingga dapat sebagai alternatif usaha yang dapat memberikan keuntungan (Anonim, 2009).
II. 2. Nata De Coco
            Nata berasal dari bahasa Spayol yang berarti krim. Jadi Nata De Coco adalah krim yang berasal dari air kelapa. Krim tersebut dibentuk dari hasil fermentasi organism Acetobacter xylinum yang membentuk gel pada permukaan yang mengandung gula (Pagarra, 2008).
II. 3. Pembentukan Serat Nata
            Bibit nata adalah bakteriAcetobacter xylinum yang akan dapat membentuk serat nata jika ditumbuhkan dalam air kelapa yang sudah diperkaya dengan karbondan nitrogen melalui proses yang terkontrol. Dalam kondisi demikian, bakteri tersebut akan menghasilkan enzim yang dapat menyusun zat gula menjadi ribuan rantai serat atau selulosa. Dari jutaan renik yang tumbuh pada air kelapa tersebut, akan dihasilkan jutaan lembar benang-benang selulosa yang akhirnya nampak padat berwarna putih hingga transparan, yang disebut sebagai nata. (Anonim, 2015).





II. 4. Proses Pembuatan Nata
                        Berikut adalah prosedur pembuatan nata de coco :
1.      Persiapan media starter/ Bibit Nata De Coco
Starter atau biakan mikroba merupakan suatu bahan yang paling penting dalam pembentukan nata. Sebagai starter, digunakan biakan murni dari Acetobacter xylinum. Bakteri ini dapat dihasilkan dari ampas nenas yang telah diinkubasi ( diperam) selama 2-3 minggu. Starter yang digunakan dalam pembuatan nata sebanyak 170 ml.
2.      Penyaringan
            Untuk menghilangkan kotoran yang bercampur pada air kelapa dilakukan penyaringan air kelapa dengan menggunakan kain saring. Kemudian campurkan gula pasir ( 100 g/l air kelapa ) dengan air kelapa lalu didihkan dan dinginkan.
3.      Inokulasi
            Setelah dingin, pHnya diatur dengan menambahkan asam asetat atau asam cuka sekitar 20 ml hingga diperoleh kisaran keasaman (pH) 3-4. Kemudian diinokulasi dengan menambahkan starter (Acetobacter xylinum) 170 ml.
4.      Fermentasi
            Masukkan campuran tersebut ke dalam wadah fermentasi ( baskom berukuran 34 x 25 x 5 cm ). Wadah ditutup dengan kain saring dan diletakkan ditempat yang bersih dan aman. Dilakukan pemeraman selama 8-14 hari hingga lapisan mencapai ketebalan kurang lebih 1.5 cm.
5.      Pemanenan
            Setelah pemeraman selesai dengan terbentuk lapisan nata,lapisan nata diangkat secara hati-hati dengan menggunakan garpu atau penjepit yang bersih supaya cairan dibawah lapisan tidak tercemar. Cairan dibawah nata dapat digunakan sebagai cairan bibit pada pengolahan berikutnya.Buang selaput yang menempel pada bagian bawah nata, dicuci lalu dipotong dalam bentuk kubus dan dicuci ( Anonim, 2015).



BAB III
METODE

3.1. Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilaksanakan pada hari Jumat tanggal, 20 Mei  2016 pukul 08.00 – 10.00 WITA di Laboratorium Pangan Teknologi Industri Pertanian Politeknik Negeri Tanah Laut.
3.2. Alat
Alat yang digunakan pada praktikum ini adalah timbangan, panci, corong, baskom, saringan, gelas kimia, kompor gas, kertas saring
Bahan yang digunakan pada praktikum ini adalah air kelapa, kecambah, cuka, cairan bibit (starter), gula pasir, natrium benzoate dan eseens.
 3.3. Prosedur Kerja
Prosedur kerja pada praktikum pembuatan nata de coco adalah :
1.      Disiapkan alat dan bahan
2.      Disiapkan air kelapa yang telah disaring dan bebas kotoran
3.      Dipanaskan air kelapa tersebut agar terbebas dari microba.
4.      Direbus air kelapa 1/3 bagian dengan kecambah sampai mendidih lalu disaring dan dimasukkan dipanci yang berisi rebusan air kelapa 2/3 bagian.
5.      Ditambahkan gula kedalam campuran sebanyak 7,5 % dari jumlah air kelapa.
6.      Didinginkan air kelapa dan campuran tadi dituang diwadah yang steril lalu ditambahkan cuka 25 %.
7.      Dinokulasi larutan dengan cairan bibit starter lalu diinkubasi selama kurang lebih 2 minggu dalam ruangan tertutup dan steril.
8.      Setelah diinkubasi selesai dilakukan pemanenan nata
9.      Dipotong lapisan nata menjadi bagian-bagian kecil berbentuk dadu lalu ditiriskan dan direndam dalam air bersih selama 2-3 hari untuk menghilangan asamnya, diganti air rendaman setiap harinya dengan air bersih yang baru.
10.  Direndam dalam larutan gula dengan komposisi 600 gr gula dalam 1,5 liter air lalu dipanaskan hingga terlarut, ditambah natrium benzoate sebanyak 100 mg setiap 1 kg nata de coco, direndam selama satu malam.
11.  Setelah direndam diasukkan nata de coco didalam plastik atau botol steril dengan air perendam dengan perbandingan 2:1.
12.  Nata de coco siap dikonsumsi.


























BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1. Hasil
            Hasil dari percobaan ini mengalami kegagalan, penyebabnya ada dipembahasan.
           
4.2 Pembahasan
Percobaan pembuatan nata de coco  ini mengalami kegagalan, dikarenakan beberapa faktor diantaranya yaitu wadah yang tidak steril, kertas penutup wadah Nata telah sobek sehingga bakteri lain bisa masuk dan Nata telah ditumbuhi oleh jamur dan berulat.
Wadah yang tidak steril ini disebabkan  karena bisa saja dalam saat proses pencucian wadah tersebut tidak bersih dan bisa saja juga walaupun secara kasat mata wadah itu terlihat bersih namun mikroorganisme sangatlah berukuran kecil sehngga tidak terlihat serta ketika wadah hendak digunakan tidak dipanaskan terlebih dahulu. Kertas penutup nata yang sobek disebabkan karena saat proses pembuatan nata  kertas tersebut terkena air sehingga kertas penutupnya menjadi basah dan sobek itulah yang membuat bakteri lain bisa masuk kedalam wadah dan berkembang biak didalam wadah tersebut dan ada juga yang telah berulat.












BAB V
KESIMPULAN DAN SARAN

5.1. Kesimpulan
                        Buah kelapa yang hanya biasanya dikonsumsi isinya dan airnya saja kini berkat perkembangan tehknologi yang pesat yaitu memanfaatkan micro organisme air kelapa tersebut bisa di inovasi menjadi Nata de coco yang memiliki rasa kenyal dan enak dikonsumsi serta harganya pun juga bisa meningkat.

5.2. Saran
 Disarankan mahasiswa agar lebih memperhatikan kesterilan alat sebelum digunakan ataupun tangan setelah praktikum mikrobiologi nantinya.




















                                    DAFTAR PUSTAKA
Astawan, 2004.” Manfaat Buah Kelapa”.
            bioteknologi-nata-de.html
            Diakses pada 02 juni 2016
Anonim, 2015. “Pembuatan Nata”
                     http://id.wikipedia.org/wiki/Nata_de_coco
                     Diakses pada 02 juni 2016
Anonim, 2009. “ Buah Kelapa”.
                        http://tulisanpuji.blogspot.co.id/2011/01/nata-de-coco.html
            Diakses pada 02 juni 2016
Anonim, 2015. “Pembentukan Serat Nata”
                     http://id.wikipedia.org/wiki/Nata_de_coco
                     Diakses pada 02 juni 2016
Pagarra, 2008. “ Arti Kata Nata”
                        http://bioindustri.blogspot.com

             Diakses pada 02 juni 2016

Wednesday, February 8, 2017

Praktikum Mikrobiologi Industri :PEBUATAN VCO

BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Indonesia kaya tumbuhan kelapa. Sejak bertahun-tahun kelapa banyak dimanfaatkan untuk berbagai keperluan. Ibu rumah tangga membuatnya menjadi santan untuk bahan memasak. Saat ini, pemanfaatan kelapa lebih berkembang. Salah satunya dengan membuatnya menjadi minyak kelapa  (Virgin Coconut Oil/VCO). Hingga kini minyak kelapa murni ramai diperbincangkan karena khasiatnya bagi kesehatan. Para ahli pun mulai tertarik untuk meneliti kandungan VCO dan kaitannya dengan kesehatan manusia. Kelapa adalah satu jenis tumbuhan dari suku aren-arenan atau Arecaceae dan adalah anggota tunggal dalam marga Cocos. Tumbuhan ini dimanfaatkan hampir semua bagiannya oleh manusia sehingga dianggap sebagai tumbuhan serba guna, khususnya bagi masyarakat pesisir. Kelapa juga adalah sebutan untuk buah yang dihasilkan tumbuhan ini.
Minyak kelapa murni (Inggris: virgin coconut oil) adalah minyak kelapa yang dibuat dari bahan baku kelapa segar, diproses dengan pemanasan terkendali atau tanpa pemanasan sama sekali, tanpa bahan kimia dan RDB. Penyulingan minyak kelapa seperti di atas berakibat kandungan senyawa-senyawa esensial yang dibutuhkan tubuh tetap utuh. Minyak kelapa murni dengan kandungan utama asam laurat ini memiliki sifat antibiotik, anti bakteri dan jamur. Minyak kelapa murni, atau lebih dikenal dengan Virgin Coconut Oil (VCO), merupakan merupakan modifikasi proses pembuatan minyak kelapa sehingga dihasilkan produk dengan kadar air dan kadar asam lemak bebas yang rendah, berwarna bening, berbau harum, serta mempunyai daya simpan yang cukup lama yaitu lebih dari 12 bulan (Lestari, 2014).

1.2 Tujuan
            Tujuan dri praktikum ini adalah cara pembuatan VCO dengan metode fermentasi dan faktor-faktor yang mempengaruhi pembuatan VCO.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA
Virgin Coconut Oil atau minyak kelapa murni dihasilkan dari buah kelapa tua yang segar atau baru dipetik, bukan terbuat dari kopra seperti minyak kelapa biasa, dan proses pembuatannya pun tidak menggunakan bahan kimia dan pemanasan tinggi. Minyak diperoleh hanya dengan perlakuan mekanis dan pemanasan minimal, karena tidak melalui pemanasan tinggi maka vitamin E dan enzim-enzim yang terkandung di dalam daging buah kelapa dapat dipertahankan (Lestari, 2014).
Virgin Coconut Oil atau minyak kelapa murni mengandung asam lemak rantai sedang yang mudah dicerna dan dioksidasi oleh tubuh sehingga mencegah penimbunan di dalam tubuh. Menurut Alamsyah tahun 2015, ada beberapa metode yang digunakan dalam mendapatkan minyak kelapa murni (VCO), yaitu :
1. Cara Tradisional
 Cara ini sudah lama dipraktikkan oleh ibu-ibu di pedesaan. Umumnya, VCO yang dihasilkan digunakan untuk minyak goreng. VCO yang dihasilkan dengan cara tradisional berwarna agak kekuningan dan memiliki daya simpan yang tidak lama. Kandungan antioksidan dan asam lemak rantai sedang juga sudah banyaj yang hilang. Cara pembuatannya yaitu sabut buah kelapa dikupas kemudian dibelah dan daging buahnya dicongkel. Daging buah tersebut dibersihkan dengan air mengalir kemudian diparut. Hasil parutan kelapa di campur dengan air dengan perbandingan 10:6. Endapkan santan sekitar 1 jam sampai terbentuk krim santan dan skim santan. Ambil krim santan dan panaskan hingga mendidih pada suhu sekitar 100-110 C. Matikan api bila sudah terbentuk minyak dan blondo. Lama waktu yang dibutuhkan sekitar 3-4 jam. Minyak yang sudah diperoleh disaring dengan menggunakan kain dan kertas saring.
2. Cara Pemanasan Bertahap
Cara ini dilakukan untuk menyempurnakan pembuatan VCO cara tradisonal. Minyak yang dihasilkan memiliki kualitas yang lebih baik dibandingkan dengan cara tradisional. Minyak yang dihasilkan berwarna bening seperti kristal dan memiliki daya simpan yang lebih lama berkisar 10-12 tahun. Kandungan asam lemak tidak banyak yang berubah dan kandungan antioksidannya pun masih lengkap dalam jumlah yang seimbang. Cara pembuatan dengan metode ini sama dengan cara pembuatan dengan cara tradisional, yang berbeda terletak pada suhu pemanasan. Dimana, pada pemanasan bertahap suhu yang digunakan sekitar 60-75 C. Bila suhu mendekati angka 75 C matikan api dan bila suhu mendekati angka 60C nyalakan lagi api. Demikian seterusnya sampai terbentuk minyak dan blondo. Kemudian lakukan penyaringan.
3. Cara Enzimatis
 Cara ini merupakan cara pembuatan VCO tanpa proses pemanasan. Minyak yang dihasilkan berwarna bening seperti kristal. Kandungan asam lemak rantai sedang dan antioksidannya tidak banyak berubah sehingga tidak mudah tengik. Enzim yang dibutuhkan adalah enzim protease, enzim papain (daun papaya), enzim bromelin (buah nanas), dan enzim protease dari kepiting sungai. Cara pembuatan santan sama dengan dua metode di atas. Setelah terbentuk santan diamkan selama 1 jam sampai terbentuk krim dan skim santan. Buang bagian skim santan dengan menggunakan selang. Parut nanas hingga halus. Jika menggunakan daun papaya iris tipis-tipis sampai mengeluarkan getah. Jika menggunakan kepiting sungai maka kepiting tersebut dihaluskan. Campurkan santan dengan enzim bromelin atau enzim papain atau enzim protease kepiting sungai dengan cara diaduk. Diamkan selama 20 jam hingga terbentuk 3 lapisan yaitu minyak, blondo dan air. Buang air dengan selang dan ambil minyak dengan sendok besar secara hati-hati agar blondo tidak ikut. Lalu lakukan penyaringan.
4. Cara Pengasaman
Cara ini tidak memerlukan pemanasan sehingga minyak yang dihasilkan bening, tidak cepat tengik, dan daya simpannya sekitar 10 tahun. Cara pembuatan santan sama dengan cara diatas. Diamkan santan sampai terbentuk krim dan skim. Buang bagian skim kemudian tambahkan beberapa ml asam cuka kedalam krim santan. Ambil kertas lakmus, celupkan kedalam campuran santan-cuka. Cek pH nya. Jika kurang dari 4,3 maka, tambahkan lagi asam cuka. Jika lebih dari 4,3 maka, tambahkan lagi air. Jika pH sudah cocok diamkan campuran tersebut selama 10 jam hingga terbentuk minyak, blondo, dan air. Buang bagian air dan ambil bagian minyak kemudian lakukan penyaringan.
5. Cara Sentrifugasi
Sentrifugasi merupakan cara pembuatan VCO dengan cara mekanik. Cara ini membutuhkan biaya yang mahal karena menggunakan alat yang mahal. Cara ini lebh cocok digunakan dalam skala besar seperti di pabrik. Waktu yang diperlukan relatif cepat yaitu sekitar 15 menit. Cara pembuatan santan sama dengan yang di atas. Diamkan santan selama 1 jam. Masukkan krim santan kedalam alat sentrifuse. Atur pada angka 20.000 rpm dan waktu pada angka 15 menit. Kemudian nyalakan alat sentrifuse. Diamkan sentrifuse dan diamkan sebentar. Ambil tabung dimana di dalam tabung terbentuk 3 lapisan. Ambil bagian VCO dengan menggunakan pipet tetes.
6. Cara Pemancingan
Cara ini ditemukan untuk memperbaiki cara-cara pembuatan VCO sebelumnya. Untuk mendapatkan VCO yang baik maka, pada cara ini memerlukan VCO sebagai umpan. Cara pembuatan santan sama dengan cara diatas. Diamkan santan sampai terbentuk krim dan skim. Buang bagian skim kemudian tambahkan VCO kedalam bagian krim dengan perbandingan 1:3. Aduk rata sekitar 5-10 menit. Diamkan  selama 10 jam sampai terbentuk VCO, blondo dan air. Buang bagian air dengan selang. Ambil VCO dengan sendok. Kemudian lakukan penyaringan dengan cara yang sama seperti yang di atas.
 Santan kelapa yang diperoleh didiamkan selama 3 jam sampai terpisah menjadi dua fase yaitu fase skim yang jernih di bagian bawah (air) dan fase krim yang berwarna putih susu dibagian atas (minyak). Skim berada dibagian bawah dikarenakan berat jenis skim lebih besar dari pada krim sehingga posisi krim berada paling atas (Hidayah, 2015).
 Semakin tinggi suhu inkubasi, kecepatan reaksi hidrolisis protein semakin cepat sehingga minyak yang dapat dibebaskan dari selubung protein juga semakin banyak sehingga rendemen semakin tinggi. Perbedaan utama VCO dengan minyak kelapa biasa terletak pada warna, rasa (taste) dan bau (scent). Minyak kelapa murni memilik sifat bening seperti air basah, tidak berbau (color less), mempertahankan bau dan rasa khas kelapa segar. Warna minyak yang terbentuk disebabkan karena tidak adanya pemanasan, karena selama proses pemanasan menyebabkan komponen karbohidrat, protein dan minyak akan mengalami hidrolisis dan oksidasi yang akan berpengaruh pada warna minyak.
Minyak dari santan dapat diperoleh dengan melakukan pemecahan emulsi dari santan tersebut. Kestabilan emulsi terjadi karena tegangan antara sisi atau muka minyak dengan protein lebih tinggi dari pada tegangan antara sisi atau muka protein dengan air dalam butiran koloidal. Tegangan antara muka protein dengan air dapat dibuat menuju nilai tegangan minyak dengan protein, maka kestabilan sistem emulsi akan terganggu sehingga emulsi dapat dipecahkan dan sebagai hasilnya akan diperoleh minyak (Alamsyah, 2005).
Hal-hal yang perlu diperhatikan dalam proses pembuatan minyak kelapa murni dengan cara fermentasi adalah sebagai berikut:
a.       Untuk memperoleh minyak yang berwarna jernih sebaiknya sebelum kelapa diparut, kelapa yang akan digunakan tersebut harus dikupas terlebih dahulu sehingga hanya bagian putihnya saja yang diparut.
b.      Pada pembuatan VCO, tambahkan biakan jamur Sacharomices, sp yang terdapat dalam ragi roti sebanyak 0,5% dari berat krim santan tersebut.
c.       Inkubasi selama 24 jam bukan merupakan waktu yang maksimum, agar diperoleh dengan jumlah yang sangat maksimum, inkubasi diteruskan dengan waktu inkubasi yang lebih lama, misalnya hingga waktu 1 atau 2 hari seterusnya. Seperti yang dijelaskan diawal bahwa masa inkubasi akan menentukan kualiatas dari suatu produk yang dihasilkan. Jadi, semakin lama waktu inkubasi maka produk yang dihasilkan akan lebih maksimal.
d.      Krim santan yang baik, setelah fermentasi selama 24 jam tidak akan menimbulkan bau tak sedap jika timbul bau tak sedap pada krim santan yang telah melalui proses fermentasi menandakan bahwa krim santan tersebut telah terkontaminasi mikroorganisme lain. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor misalnya alat-alat yang digunakan tidak higienis, sehingga terdapa bakteri atau jamur lain yang ikut serta dalam proses pembuatan. Selain itu juga dapat terjadi pada saat penyimpanan santan pada stoples, munkin proses penutupan stoples kurang rapat sehingga ada bakteri atau jamur lain masuk atau ada oksigen yang masuk. Sehingga fermentasi tidak berjalan dengan baik, karena jamur fermentasi tidak bisa bekerja jika ada oksigen (Alamsyah, 2005).























BAB III
METODE

3.1 Waktu dan Tempat
Praktikum ini dilakssanakan pada hari jumat tanggal 19 Mei 2016 pukul 13.00-15.00 WITA. Di Laboratorium Pangan Teknologi Industri Pertanian Politeknik Negeri Tanah Laut.

3.2 Alat dan Tempat
3.2.1 Alat
Alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah parutan kelapa, corong, pipet/sendok , kertas saring, botol selai, baskom, gelas beaker, alumunium foil.
3.2.2  Bahan
Bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah daging kelapa, ragi tape, dan air.

3.3 Prosedur Kerja
1.    Diparut smpai halus daging kelapa (1 biji), kemudian ditimbang.
2.    Dicampurkan parutan tersebut dengan air bersih ± 300 ml.
3.    Diperas hingga didapat santan kental.
4.    Diamkan santan yang telah didapat selama ± 1 jam hingga terbentuk 2 lapisan yaitu santan kelapa (krim) dan air.
5.    Diamkan santan kelapa (krim) menggunakan pipet/sendok lalu dimasukkan kedalam gelas beaker.
6.    Diinokulasikan
a.       Ragi tape sebanyak 10% (b/v)
b.      Tanpa perlaakuan
7.  Kemudian ditutup gelas beaker dengan alumunium foil.
8.  Inkubasi pada suhu ruang selama 24-28 jam. (dilakukan aerasi dengan menggunakan aerator jika dibutuhkan). Hasil produksi VCO ditunjukan pada lapisan atas yang berupa minyak.
9.  Diambil lapisan atas tersebut dengan menggunakan pipet, lalu disaring dengan kertas saring hingga didapat VCO murni jernih.
10.  Hitung rendemen VCO:
Rendemen =  X 100%

237,35 gr


























BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

4.1 Hasil
            Berat kelapa awal        = 400 gram = 0,4 kg
            Santan kelapa (krim)   = 200 ml
            Jumlah minyak yang diperoleh = 0 ml

            Rendemen       =  x 100 %
                                    =  x 100 % = 0 %
4.2 Pembahasan
            Pada praktikum kali ini kami melakukan pembuatan VCO dengan menggunakan santan kelapa yang sudah tua kemudian dilakukan proses untuk memperoleh VCO yang diinginkan. Dari parktikum yang telah kami lakukan, VCO yang terbentuk tidak ada sehingga dihasilkan rendemen sebanyak 0 %. Hal ini terjadi dikarenakan oleh kurang terpenuhinya syarat-syarat untuk terbentuknya VCO seperti kurang tuanya kelapa yang digunakan, kurang tepatnya jumlah ragi yang digunakan, adanya kontaminasi bahan oleh kontaminan, kurang lamanya waktu inkubasi yang diperlukan untuk terbentuknya VCO, dan seharusnya kelapa yang sudah diparut harus langsung diproses.
            Pada pembuatan VCO, kelapa yang digunakan harus benar-benar tua dan untuk memperoleh minyak yang berwarna jernih sebaiknya sebelum kelapa diparut, kelapa yang akan digunakan tersebut harus dikupas terlebih dahulu sehingga hanya bagian putihnya saja yang diparut. Jumlah ragi yang tepat untuk diberikan pada krim santan adalah sebanyak 0,5 % dari jumlah krim santan yang diperoleh. Waktu Inkubasi selama 24 jam bukan merupakan waktu yang maksimum, agar diperoleh dengan jumlah yang sangat maksimum, inkubasi diteruskan dengan waktu inkubasi yang lebih lama, misalnya hingga waktu 1 atau 2 hari seterusnya. Semakin lama waktu inkubasi maka produk yang dihasilkan akan lebih maksimal.
            Krim santan yang baik, setelah fermentasi selama 24 jam tidak akan menimbulkan bau tak sedap jika timbul bau tak sedap pada krim santan yang telah melalui proses fermentasi menandakan bahwa krim santan tersebut telah terkontaminasi mikroorganisme lain. Hal ini dapat disebabkan oleh beberapa faktor misalnya alat-alat yang digunakan tidak higienis, sehingga terdapa bakteri atau jamur lain yang ikut serta dalam proses pembuatan. Selain itu juga dapat terjadi pada saat penyimpanan santan pada stoples, munkin proses penutupan stoples kurang rapat sehingga ada bakteri atau jamur lain masuk atau ada oksigen yang masuk. Sehingga fermentasi tidak berjalan dengan baik, karena jamur fermentasi tidak bisa bekerja jika ada oksigen (Alamsyah, 2005).
Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam pembuatan VCO adalah bahan yang digunakan, kebersihan bahan dan alat, waktu inkubasi, jumlah ragi yang diberikan, jenis ragi yang diberikan, adanya oksigen dan adanya kontaminasi bakteri atau jamur lain.


















BAB V
PENUTUP

5.1 Kesimpulan
            Dari praktikumyang telah kami lakukan dapat disimpulkan bahwa:
1.      Dalam pembuatan VCO dengan metode fermentasi pada prosesnya menggunakan bantuan ragi tape.
2.      Faktor-faktor yang mempengaruhi dalam pembuatan VCO adalah bahan yang digunakan, kebersihan bahan dan alat, waktu inkubasi, jumlah ragi yang diberikan, jenis ragi yang diberikan, adanya oksigen dan adanya kontaminasi bakteri atau jamur lain.
5.2 Saran
            Ketika melakukan praktikum, diharapkan praktikan lebih memahami materi sebelum mlakukan praktikum sehingga meminimalisir terjadinya keslahan saat melakukan praktikum dan jangan malu bertanya kepada asisten dosen atau dosen pengampu praktikum apabila tidak paham atau mengalami kesulitan dalam melasanakan praktium.















DAFTAR PUSTAKA


Alamsyah, N.A. 2005. Pengenalan Virgin Coconut Oil. Jakarta: Badan Penelitian dan Pengembangan Pertanian.
Hidayah, Nurul, ” Laporan Praktikum Biokimia II Pembuatan VCO (Virgint Coconut Oil)”. http://dokumen.tips/documents/pembuatan-vco-560989da4f185.ht ml. diakses pada tanggal 13 Juni 2016 pukul 14.05 WITA..
Lestari, Shinta, “Makalah Pembuatan VCO (Virgin Coconut Oil)”. http:// sinthalestari.blogspot.com/2014/05/normal-0-false-false-false-in-x-nonex . html, diakses pada 13 Juni 2016 pukul 14.00 WITA.